I love you but i hate you, Pak Polisi!
Hari minggu 25 Oktober 2015, tepat 45 hari gw balik dari German ke Jakarta. Hari ini gw jalan2 ke kota tua buat menghadiri acara dua mingguan sekalinya Couchsurfing Jakarta. Dan sebenernya gw menghadiri acara ini juga buat liputan tugas psikom gw, demi tercapaianya sebuah kesarjanaan (apalah bahasanya),hehehe.. Acaranya ini seru banget, karena kita bisa ketemuan sama orang-orang baru yang ga cuma dari Indonesia doang tapi foreign people juga ada, nah sayangnya, untuk kali ini semua slot didominasi sama kaum pribumi (alias wong indonesia aseli).
Oh iya, kali ini gw mau nulis yang agak nyleneh dikit. Kenapa gw kasih judul "I love you but i hate you, pak polisi" karena gw merasa kesel dan keki sama pak polisi, kenapa bisa begitu ? Karena gw habis ditilang.. Iya DITILANG!!. Well sebenernya gw agak malu nyeritainnya, bukan.. Bukan karena gw malu ditilang, tapi proses penilangannya yang menurut gw ga sesuai prosedur dan jauh dari kata keadilan.
Oke, gw mulai dari kronologis, kenapa gw bisa ditilang. Soo diawal gw udah bilang bahwa hari ini gw abis jalan ke kotu buat menghadir acara couchsurfing. Selepas dari acara itu, gw dan kawan-kawan sepakat untuk pindah tempat dari kotu menuju sarinah. Karena ada beberapa orang yang sudah stay disana. Nah dikarenakan gw membawa motor ke kotu, alhasil gw naik motor pula lah ke sarinah sedangkan temen-temen gw yang lain nebeng sama salah satu temen gw yang bawa roda empat (dibaca: mobil).
Tetapi bagaikan punduk merindungkan bulan (asal aja pribahasanya, yang penting panjang aja ceritanya. Hehe) Gw lah kena tilang di jalan harmoni depan lampu merah harmoni persis. Awalnya gw ga tau salah gw apa, tetiba ada polisi yang menghampiri gw dan menanyakan surat2 motor gw. Kondisinya adalah sedang lampu merah dan gw sedang berhenti di lampu merah dan dibelakang garis berhenti. Gw yang membawa surat motor lengkap dengan pedenya mengeluarkan semua surat-surat gw (stnk+ sim C). Ajaibnya ketika pak polisi itu megang sim sama stnk gw, langsung lah doi jalan dan bilang "ywdh mas, kita ke pos dulu, motornya ditaro didepan pos aja". Gw yang tadinya pede tetiba mengkerutkan kening dan bergumam "whats wrong?, what have i done?". Gw mau berbuat apa lagi coba, stnk sama sim gw udah ditangan doi, mau ga mau gw ikut ke pos polisi.
Dengan rasa penasaran dan keheranan gw masuk ke dalam pos. Sepanjang perjalanan sebelum gw masuk ke pos, otak di kepala gw berkerja keras untuk menemukan kesalahan apa yang telah gw perbuat. Apakah gw melanggar lampu merah ? Ga mungkin lah orang gw adalah orang yang pertama berhenti ketika lampu berwarna merah. Apakah gw melewati garis pembatas berhenti ? Enggak juga. Apakah sepion gw ga ada sebelah ? Sepion gw utuh kanan kiri. Apakah pentil ban gw hilang satu ? Semua pentil ban ada pada tempatnya. Hmmm.. Kebingungan pun melanda.
Oke lah gw masuk kedalam, dan langsung disapa sama pak polisi bernama Triy*o*no (nama sebenernya). "selamat malam mas sigit, sapanya dan gw jawab malam pak dengan muka seadanya karena penasaran". Mau kemana mas ? Gw bilang gw mau pulang pak lewat thamrin. Oh gitu..
"Mas tau ga ini mas melanggar peraturan baru pemerintah dari pak Ahok". "Peraturan apa ya ?" Doi jawab "Iya jalan yang lewat ke sana itu verboten buat motor dari jam 6 pagi sampe 11 mlm". Itu peraturan yang baru mas.
Gw dengan polosnya bilang "lah saya ga tau pak peraturan itu" doi jawab "kan ada rambu2 nya mas, mas liat ga (dia nunjukin rambunya). Oh iya pak saya lihat. Tapi pak saya merasa ga salah karena saya belom masuk ke jalan itu, saya kan hanya berhenti di lampu merah, seharusnya bapak tegor saya bahwa jalan ini tidak boleh dimasuki oleh pengendera motor, jadi saya pasti belok. Toh saya kan belom masuk jalan itu. Seharusnya kl bapak polisi yang baik bapak mencegah saya agar saya tidak melanggar peraturan pak ahok yang baru bukan malah menilang saya.
Keheningan pun melanda, sudah mas mas mau ditilang apa gimana nih ? Gw udah merasa senewen dan pasrah aja ditanya gitu. Gw yang merasa ga bersalah akhirnya dengan lapang dada harus menyerah untuk bersalah. Oke gw salah, gw salah karena telah melanggar peraturan pak ahok yang baru bahwa motor gw dan gw telah memasukin daerah terlarang itu, padahal ibarat katanya mah gw didepan pintunya doang belom masuk ke jalannya.
Dan satu lagi yang bikin gw kesel dan harus menerima kekeselan gw dengan lapang dada. Tujuan gw adalah balik ke rumah, ke daerah taman mini. Eng ing eng.. Teryata gw pun salah jalan, seharusnya gw ga berhenti di lampu merah itu. kata pak triy"o*no itu gw ga harus berhenti dilampu merah tapi tinggal belok kiri dan lurus aja. Berarti seharusnya lagi gw ga kena tilang dong, karena gw seharusnya ga berhenti di depan pintu "maut itu" (dibaca: lampu merah). Tapi apa daya tangan tak sampai.
Nah ini part yang bikin gw malu sih sebenernya. Ketika pak polisi triy*o*no itu menanyakan kembali "mau gimana mas, ditilang ?. Gw jawab ywdh pak tilang aja. Eh doi bilang, mas kl mau bayar dendanya 100rb rupiah. Mas bayar disini jadi mas ga ush kena tilang. Dalam hati gw berkata "sudah kuduga". Tapi gw bilang sama doi kl gw ga punya duit. "udahlah pak, tilang aja. Saya ga punya duit. Saya salah". Tapi Double ajaib hari ini, gw denger kata-kata ajaib dua kali dari pak polisi itu. Kata ajaib kedua yang keluar dari mulut doi ini adalah "YWDH MAS BAYAR SETENGAH AJA" gw senyumin aja. Dalam hati gw berkata" gila ya, peraturan pak ahok yang baru bisa dibayar setengah, super sekali pak polisi.
Bukan maksud gw buat sok bijak atau sok baek, atau sok apalah gitu. Gw adalah bagian dari rakyat indonesia, event gw adalah orang kecil. Gw adalah orang yang ingin melihat negara gw maju. Coba bayangin deh ketika gw bayar ditempat 100rb, gw sih ga yakin itu bakalan masuk ke kas jakarta. Ketika gw bayar trus gw bebas tilang, berarti gw udh memberdayakan suap menyuap. Karena dalam hati gw, gw mau indonesia berubah ke arah lebih baik. Mungkin ini caranya buat gw membantu perubahan. Mungkin ini dibilang lebai, tapi coba kita bayangin, yang Katanya mau Indonesia berubah, tapi kita tetep membedayakan budaya suap, menerobos lampu merah, dan melanggar perturan event itu perarturan kecil, tindakan kita sama kata-kata kita udah opposite. So pertanyaan lain yang sering keluar adalah gimana Indonesia mau maju ?
Oke gw salah dalam hal ini, gw salah karena telah melanggar peraturan pemerintah yang baru dari pak Ahok. Tapi gw ga mau salah yang kedua kalinya dengan memberikan uang ke polisi itu dan memberdayakan suap. Sekali lagi gw tekankan, bukan masalah uangnya yang cuma 100rb, tapi coba bayangin ketika semua pelanggaran diberi kebebasan dengan membayar sejumlah uang ke pak polisi, yang kita ga tau uang tsb masuk perut atau masuk kas daerah, yang ada kita justru menghacurkan negeri kita sendiri dengan mendidik orang-orang menjadi korupsi atau tidak taat aturan.
Gw percaya perubahan itu pasti menyakitkan. Gw pun sakit disini, dihati.. Gw lebih memilih ribet dengan mengurus tilang ke daerah jakarta pusat dan beribet-ribet ria dengan sidang ketimbang harus memberi makan pak polisi dengan uang suap. Kasian pak polisi dan keluarganya dikasih makan suap. Dan secara tidak langsung gw juga menghancurkan negeri gw sendiri.
Noted: Hari ini gw belajar, Sebelum jalan gw harus cek GPS biar ga nyasar dan salah berhenti lampu merah.
Di Rumah
25-Oktober-2015
Komentar
Posting Komentar